Sabtu, 03 Maret 2012

Dibalik Facebook

Tiga tahun yang lalu, FB tenar di sekolahan. Semua siswa yang menenteng hape dengan aplikasi internet standar mempunyai FB. Tuts-tuts pada hape ditekan-tekan untuk menuliskan kalimat. Walau pun kalimatnya hanya "PAGI..."

Trend tersebut cepat merambah keseluruh siswa, walau pun hape mereka tak punya aplikasi internet. Sahut-menyahut pun tak kalah, kala mereka telah mempunyai FB. Yang pada intinya
 "Add Aku ya...", 
"Kok kamu belum ngonfirm saya?" 
ato "aku sudah add kamu kok"

Diantara sahuta-sahutan itu ada sahutan yang begitu menekan "FB itu haram". Sontak beberapa siswa tidak menyetujui dan menanyakan mengapa diharamkan? Ada yang bilang FB itu akan memunculkan berbagai maksiat yang akan merugikan orang lain. Dan memang benar, saat FB itu tenar, banyak maksiat yang terjadi seperti penculikan, penipuan, perkelahian. dan bahkan pemerkosaan. 
Namun berita-berita itu dikalahkan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang butuh komunikasi dan membangun jaringan. 


Selain itu, muncullah sebuah persepsi bahwa yang nggak punya FB, kuno. Walhasil, saya sebagai siswa saat itu ingin mencoba, tapi tak tahu bagaimana caranya. Namun, di suatu hari, saat nenekku ingin melihat omku di perantauannya difasilitasi oleh bapak, adik dan omku untuk melihatnya via YM. Dengan memanfaatkan kondisi saat itu, saya dan adikku berjuang untuk membuat FB. Dengan begitu cekatan adikku memulai, tapi tak berhasil walaupun sudah berkali-kali dicoba. Giliranku tiba, dan Yesss... saya bisa membuat FB. Tapi, Ada pertanyaan yang terbersit di hatiku. Akan kuapakan FB ini? tohh saya hanya punya hape yang tak mempunyai aplikasi internet. Gubrakkk... Berbulan-bulan FB itu tak terjamah setelah saya membuatnya. Nggak sampe setahun sih.

Menanggapi kata "FB itu haram", menurutku kembali lagi pada si penggunanya. Jika digunakan dengan baik, ya tentulah akan bermanfaat. Jika digunakan dengan sembarangan, ya hasilnya juga seimbang dengan yang dilakukan. Dampak pastilah merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Setelah mendapat hape yang lebih canggih, saya mulai mendapat virus tanpa hari tanpa buka FB. Mulai menulis status dari skala berbobot sampai skala sangat GJ ditambah dengan kegalauan. 
Selang tahun berganti, kini twitter ada dengan aplikasi yang lebih menarik, namun tetap saja FB ramai. Dengan status yang masih saja... 
"Saya sakit... hiks...:'("
"Waahh telat..."
"Tolong Rossi,  1000 Rose buat Rosa" -Ehhhh kayak mirip........-
"Maapin Rossi ya Rosa"
dsb.

Pusing bacanya jika status-statusnya kayak gitu. Intinya hanya ingin dapat perhatian dan curhat GJ. Terlebih lagi status "Tolong Rossi,  1000 Rose buat Rosa" . waahh... apalagi lagi klo beneran kekumpul 1000 rose. Ini tandanya sudah ada penyimpangan.

Jika Dilihat dan diselidik lagi,  kebanyakan pengguna FB itu hanya menggunakannya itu curhat.
Sampai akhirnya saya mendapat info bahwa FB yang dibuat oleh Mark Zuckerberg, ternyata ada usaha terselubung. Yakni agar manusia-manusia itu menuliskan rintihan, permintaan dan semacamnya ke FB tersebut.  FB itu layaknya tempat mengaduh, merintih, merengek, memohon dsb. Bahaya dong! Kok aplikasi kayak gitu, bisa membuat nyata apa yang diinginkan, bisa membuat tenang, bisa ngilangin rasa sedih... Padahal tempat meminta, mengaduh, merengek dan memohon itu kepada yang punya. Yakni ALLAH swt. Laa ilaaha illallaah

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu" (QS. Muhammad:19)

Rabu, 15 Februari 2012

The Last Holiday at sulsel


Sabtu, 12 Januari 2012.

     Itulah hari terakhir liburanku di semester 3. Lusanya saya menginjak semester 4. Dengan mata kuliah yang lebih mendalam lagi mengenai AGRONOMI & HORTIKULTURA. Tetapi belum saatnya untuk menceritakan itu. saya ingin menceritakan hari sabtu itu.

     Hari itu, saya kembali lagi merantau di kampung orang untuk menimba ilmu. Namun, ada satu problem yang belum terselesaikan. Dan itu, tak pernah saya ungkapkan kepada orang lain. Padahal saya ingin sekali menceritakan itu pada kakak-kakakku, dan keluargaku. Hal ini yang membuatku selama ini kepikiran jika berada di tempat rantauku. Tetapi  saat liburan, problem itu sementara hilang begitu saja. Dan akan muncul saat saya kembali ke rantauan. Problem itu adalah saya sendiri.

     Itu, baruku sadari ketika bertemu dengan seorang bapak di bandara Hasanuddin. Bapak ini, awalnya saya duga adalah orang makassar. Saat berbicara dengannya, tentulah saya menggunakan logat lokalku. setelah lama ditanya-tanya oleh bapak tersebut, barulah saya menanyakan asalnya, karena saya merasa bahwa sepertinya orang ini bukan orang sulsel, soalnya dia menggunakan bahasa indonesia yang bagus. Ternyata bapak ini dari lampung, Bapak ini datang ke makassar dengan tujuan konferensi di suatu hotel. Kenyataan yang lain lagi, bahwa bapak ini, adalah seorang alumni agronomi di suatu universitas di Lampung. 

     Saya yang dengan ilmu minim sekali mengenai pertanian indonesia, merasa malu karena tidak dapat memanfaatkan waktu itu, untuk bertanya banyak mengenai pertanian.
Tau-tau bapak ini malah membahas masalah agama.Tanpa ditanya beliau  mengatakan bahwa beliau adalah anggota HMI yang menyayangkan keadaan yang terjadi pada HMI. Kemudian beliu bercerita kesehatan, -melihat keadaanku yang lagi sakit-. Beliau mengatakan bahwa sakit kita itu -Flu, pusing, batuk, mata mines, demam dan sebagainya-, tidak jauh dari imbas perbuatan kita sendiri. Saat suatu keadaan tidak sesuai dengan selera, saat kita tak bisa mengutarakan sesuatu, saat kita berbantahan dengan orangtua/suami, saat ibu kita sendiri yang bermasalah dengan orang lain, saat kita jengkel, marah, saat pandangan kita berbeda, itu berdampak pada kesehatan. Dan itu memang benar dan terjadi pada diriku.

     Beliau berkata, seseorang tidak patut untuk sombong. karena semua itu adalah milik-Nya. Kita tidak dapat memaksakan kehendak kita. Semua ini adalah kehendakNya. Kita bertemu, adalah kehendakNya. Dan saya  merasa bahwa problemku yang selama ini saya tanyakan padaNya, bagaimana caranya diri ini menghadapi situasi itu, terjawab sudah, melalui bapak ini.Lebih banyak lagi yang beliau katakan yang tidak bisa kutuliskan. dan banyak yang terlupa olehku. 

     Satu amanah yang mencuat ketika beliau menanyakan mengenai pertanian di kampungku.  Dan Beliau berkata, kalianlah yang menjadi generasi pelanjut yang harus mencari jalan keluar bagaimana agar hasil komoditas di daerah itu, dapat diolah lebih lanjut, tidak hanya usaha pertanian di hulu tapi harus mengalir ke pertanian hilir.

Senin, 06 Februari 2012

Makna Tak tersampaikan

Suatu waktu, ketika hanya hati yang berkata, hanya akal yang selalu berpikir tanpa tindakan sama saja dengan sia-sia. -Tapi tak semuanya sia-sia-. Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Si pengkode membuat kode sebisanya, namun tak memberikan kode yang jelas. sehingga si pemecah kode hanya mendapatkan pesan yang menurutnya jelas, tetapi menurut si pengkode tidak seperti itu. Inilah masalah besar kita, sehingga terkadang menjadi konflik.

Begitu pun halnya dengan komunikasi antar suku, terkadang makna yang tertangkap oleh  suku lain maknanya beda. bukannya ingin rujuk tau-tau permasalahan malahan bertambah. bagaimana mengatasinya?

Jika hampir menuju kearah yang memanas maka. sebaiknya dihindari. Namun terkadang kita kurang memahami kondisi seseorang, sehingga salah lagi deh. Jika telah panas,  perlu waktu untuk mendinginkannya. So, saat masalah tersebut terjadi sebaiknya diamlah dan sabar menunggu saat dia telah mendingin kemudian dibicarakan baik-baik.

Dan dianjurkan untuk mempelajari budaya orang dan karakternya sehingga kita dapat menempatkan diri saat menghadapinya. 

Manusia sumbernya salah, seorang cerdas kan mempelajari dimana letak kesalahannya dan mengoreksinya, serta berusaha untuk tidak melakukannya lagi.

Itu yang kudapatkan dari kalian. Dimana itu hanya menjadi teori saat kuliah, dan menjadi praktik dalam kehidupan sehari-hari, yang materinya lebih kompleks dibandingkan kuliah. Jika kita ingin mempelajarinya. Saking kompleksnya seseorang tak bisa menyelesaikan bahkan melarikan diri dari masalah tersebut.

Minggu, 22 Januari 2012

3 Roda

Judul di atas,bukan bermaksud untuk memamerkan sebuah merek barang dagangan, tetapi hanya teringat sebuah kendraan tradisional, yang kini telah jarang digunakan yakni Becak  (bahasa Hokkien: be chia “kereta kuda"). Becak ini asalnya dari Jepang.
Walau pun di Kota telah jarang digunakan tetapi di kampung masih tetap ada, karena mengingat bahwa Becak itu sendiri menggunakan tenaga manusia sehingga kecepatannnya lebih lambat dibandingkan dengan kecepatan mesin. Serta orang-orang yang sekarang sangat terpacu oleh waktu. sehingga masyarakat lebih memilih ojek, angkot dan kendaraan bermotor lainnya. Bahkan becak telah dimodifikasi dengan merangkaikan tubuh becak dengan kendaraan bermesin seperti Bemo -becak motor-.Selain penggunaannya yang kurang mengefisienkan waktu, masyarakat juga beralih ke ojek misalnya, sebab biaya becak ini pun mahal. Padahal satu-satunya kendaraan yang ramah lingkungan yakni becak.
Saya tak mau terlalu membahas mengapa becak itu kini kurang digunakan, tetapi  saya ingin mengungkapkan bahwa di Indonesia, walau pun satu negara, namun ternyata becak itu pun berbeda-beda desainnya, tetapi tetap saja tiga roda. :-). Mengapa berbeda, saya pun kurang tahu. Itulah keistimewaannya.Tidak seperti ojek yang semuanya sama, yakni menggunakan motor. Berikut beberapa gambar becak yang ada di Indonesia:

Becak Makassar

Becak Medan

 Becak Jakarta


Becak Yogyakarta


 Becak Papua

Untuk mengabadikan becak tersebut, beberapa daerah di Indonesia menggunakannya sebagai alat transportasi wisata. Dan baru-baru ini, Desember 2011 lalu, telah didirikan sebuah museum becak di Makassar.

*Artikel GJ. :D