Senin, 23 Februari 2015

2013 - 2014

Tulisan ini ditulis bulan februari dan baru diposting sekarang-september

Bismillah...
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Apakabar Sobat....
Semoga kalian dalam keadaan sehat wal afiat.
Sudah lama tak menulis di blog ini lagi.... Postingan terakhir bulan November 2013. Dan sekarang sudah bulan Februari 2015. Woaaaahhh.... 1 tahun lamanya tidak pernah menulis lagi. Hehehe....

Selama setahun belakangan -2013-2014- banyak hal yang telah saya lalui. Mulai dari KKP di Pekalongan , Perencanaan penelitian jagung yang tidak jadi dilaksanakan, dan berpindah ke penelitian kedelai, penulisan skripsi hingga sekarang sedang menunggu saat-saat istimewa -Kata dosenku [Ibu Ning] proses untuk mengetahui sedalam apa pengetahuamu tentang penelitian ini-... Kalo bahasanyao anak IPB "Sidang". Klo di Makassar dikenalnya "Ujian meja". Di universitasmu sendiri istilahnya apa???

KKP di PEKALONGAN
Kuliah Kerja Profesi [KKP] saya dapat jatah di Desa Depok Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan. Sebenarnya tidak hanya di desa itu. Untuk di Kecamatan Lebak barang ada 5 desa yang menjadi posko KKP IPB, yaitu Depok, Lebakbarang, Sidomulyo, Tembelan Gunung dan Pamutuh. Masing-masing kelompok di  desa tersebut terdiri atas 5 mahasiswa yang memiliki latar jurusan berbeda, yaitu Agronomi dan Hortikultura (AGH), Proteksi Tanaman (PTN), Gizi  Masyarakat (GM), Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), serta Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM). Klo dikelompokku sendiri ada saya (AGH), Mimi (GM), Idah (KPM), Novi (IKK), dan Lutfi (PTN).
Hal yang penting untuk diperhatikan penting bagi saya adalah rumah yang akan ditempati. Terlebih jika teman sekelompok ada cowo. Untungnya teman-teman cewe juga agak risih jika serumah dengan cowo. kita berusaha untuk mendiskusikan dengan kepala desa agar cewe-cowo tinggal terpisah. Walhasil yang cewe ngontrak dirumah salahsatu warga -kebetulan rumahnya bertingkat, dan lantai dasar tidak ditempati oleh beliau sekeluarga- dan yang cowo numpang dirumah kepala desa yang keesokan harinya sudah tidak menjabat kepala desa lagi. Dan alhamdulillah anak-anak dari pak bejo -yang punya rumah- masih kecil-kecil. jadi ada teman main... hehehe... Kedua yang penting untuk diperhatikan adalah masalah makanan. Kami bersepakat untuk minta dimasakkan makanan oleh tuan rumah maksudnya bayar buat makan. Cewe2nya bukan g tau masak, tapi kita fokus pada kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Terlebih lagi saat itu bulan puasa jadi ada kekhawatiran akan kecapean.
Kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah silaturahmi dengan masyarakat kemudian kegiatan semiformal dilakukan yakni pengenalan mahasiswa KKP kepada masyarakat di masing-masing lokasi. Kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan masyarakat sehingga dapat diketahui permasalahan apa yang sedang berkembang. Berdasarkan hasil diskusi masing-masing mahasiswa merencanakan kegiatan yang dapat mengatasi masalah tersebut. Disini saya tidak akan memaparkan secara mendalam mengenai masalah yang terjadi, tetapi saya akan memaparkan apa yang saya dapatkan. Kebanyakan masyarakat menanyakan mengenai pertanian, terutama bagian hama.
Mengenai penyuluhan pertanian.... Sangat sulit untuk  memasukkan teknologi baru kepada masyarakat disini. Karena pengalaman buruk mereka di masa lampau. Pernah suatu kali pemerintah membagikan benih padi untuk ditanam di desa tersebut dengan dalih hasil yang tinggi. Betul saja hasil padi tersebut tinggi di desa lain -desa tetangga-tapi tidak untuk di desa ini. Mengapa??? Karena kondisi alam desa ini berbeda dengan desa tetangga. Desa ini terletak diketinggian 500m dpl.

Sehingga kami hanya memperkenalkan dan berbagi ilmu mengenai beberapa teknologi baru seperti SRI, dan vertikultur.
KKP disini seperti liburan. Mengapa??? Karena kondisi alam yang sangat indah, udara yang sejuk ditambah suara gemuruh air sungai bak musik alam yang menenangkan.

Minggu, 24 November 2013

IKHLAS

Bismillaah...
Ikhlas... aku rela, aku relakan...
Hehehe...
Sobat pernah kita mengatakan itu, saat seseorang meminta sesuatu yang berharga milik kita yang ingin dimiliki oleh orang lain... tidak hanya itu sobat...
Ikhlas yang merupakan suatu kata yang tersusun atas 6 huruf berbeda, memiliki makna yang suaaaaangaaatttt luas. Seluas langit yang berarak pelan nan syahdu, menenangkan jiwa.... *sok puitis...
Sifat ini sangat dijaga oleh Rasulullah saw, para nabi dan rasul sebelum Beliau, para sahabat, para keluarga, generasi awal umat muslim serta orang-orang yang berilmu...
Jika sobat mendengar cerita atau pun membaca kisah ketika Sitti Khadijah, istri tercinta baginda Rasulullah saw meninggalkan beliau, kemudian kisah ketika Rasulullah saw meninggalkan istri-istrinya, para sahabat, dan generasi muslim yang awal, kisah ketika ada perintah dari Allah swt kepada nabi Ismail as untuk menyembelih anaknya nabi Ibrahim as, bagaimana keputusan si anak ( nabi ibrahim as)... , kisah anak Baginda Rasulullah saw (Fatimah ra.) saat menjalani hidup bersama suami tercinta (Ali bin Abi Thalib ra), dan banyak lagi kisah lainnya. Tentu sobat sudah pernah membaca atau mendengar kisah hidup mereka... Mereka melandasi semua tindakan dengan sikap dasar ini, yakni ikhlas.., sobat akan dapat menemui keihklasan yang sangat mendalam dalam menjalani hidup ini, dan itu semua karena kecintaan mereka kepada Allah swt.
Keikhlasan yang mereka jaga bukanlah hal yang mudah sobat... Karena ikhlas bukanlah hal yang sekali coba maka akan dapat dilakukan. Tetapi ikhlas merupakan sesuatu yang perlu untuk dipelajari, diulang terus menerus, dievaluasi, kemudian diperbaiki kembali. Sifat ini tidak pasti atau tidak tetap.
Mengapa kita perlu mempelajari ikhlas, melatih, dan selalu memperbaiki keikhlasan itu, sobat???
Kira-kira kenapa ya, sobat???
Apa yang perlu kita renungi jika kita beramal tanpa ikhlas??? 
Sobat mungkin pernah mendengar seseorang yang mati-matian ikut berjihad ke medan perang untuk menegakkan islam tetapi masuk neraka
Sobat juga mendengar bahwa seorang qari' (pembaca) al-Qur'an masuk neraka
Mungkin juga sobat pernah mendengar, seorang alim ulama, pengajar agama islam masuk neraka
Sobat akann bertanya2, mengapa mereka yang kita kenal sebagai alim ulama yang rajin mendakwahkan islam, mereka yang selalu membaca al-qur'an, mereka yang berjuang dijalan Allah masuk neraka....??? Ada apa sebenarnya??? bukankah mereka menjalankan perintah Allah???
Inilah jawaban dari Rasulullah saw dalam sebuah hadist shahih yang diriwayatkan oleh An-Nasa'i:
"Manusia yang pertamakali diadili pada hari kiamat ada 3 golongan, yaitu:
1. Seseorang yang mati syahid. Ia didatangkan dan ditunjukkan padanya berbagai nikmatnya, dan ia pun mengenali nikmat-nikmat itu. Allah bertanya padanya, "Apa yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat ini?", Ia menjawab,"Aku berperang dijalan-Mu, dan aku mati syahid". Allah berkata, "kamu dusta, justru kamu berperang agar dikatakan bahwa kamu itu seorang pahlawan. Dan itu sudah dikatakan oleh orang-orang ketika di dunia ". Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk membawanya. Maka orang itu diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka.
2.  Seseorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu, serta membaca Al-Qur'an. . Ia didatangkan dan ditunjukkan padanya berbagai nikmatnya, dan ia pun mengenali nikmat-nikmat itu. Allah bertanya padanya, "Apa yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat ini?", Ia menjawab,"Aku mempelajari dan mengajarkan ilmu. Aku pun membaca Al-Qur'an karena-Mu". Allah berkata, "kamu dusta, justru kamu mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim. Dan kamu membaca Al-Qur'an agar kamu disebut qari' ". Dan sebutan itu sudah kamu dapatkan ketika di dunia. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk membawanya. Maka orang itu diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka.
3. Seseorang yang dilapangkan rezkynya oleh Allah dan dianugrahi banyak harta. Ia didatangkan dan ditunjukkan padanya berbagai nikmatnya, dan ia pun mengenali nikmat-nikmat itu. Allah bertanya padanya, "Apa yang engkau kerjakan dengan nikmat-nikmat ini?", Ia menjawab,"Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau cintai, kecuali aku berinfak di jalan-Mu". Allah berkata, "kamu dusta, justru kamu berbuat agar kamu disebut sebagai dermawan. Dan itu sudah dikatakan oleh orang-orang ketika di dunia ". Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk membawanya. Maka orang itu diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka."

Bagaimana sobat??? Setelah membaca hadist di atas kemudian mencerminkan kepada diri kita masing-masing. Apa yang bisa kita ambil benang merahnya... Ternyata sobat, sedikit saja dari rasa riya' (ingin dipuji) yang muncul akan mengakibatkan sia-sianya usaha kita untuk mengumpulkan bekal akhirat. Oleh sebab itu, mari kita selalu me-refresh, dan selalu memperbaiki keikhlasan, berusaha untuk tidak lalai, berusaha untuk selalu sadar akan kehadiran riya' dan berusaha menghindarinya. Serta memperbanyak do'a agar kita diberi ketawakkalan kepada Allah swt.
Wallaahu a'lam...

Senin, 14 Oktober 2013

Hukum Menuntut ilmu



Bismillaah...

             Menurut kalian menuntut ilmu itu apa sih??? Apakah hanya sekedar ke sekolah? ke kampus? ke tempat seminar? atau yang paling kece ke majelis ta'lim? Trusss datang, duduk, diam, atau mendengarkan kah??? G diam juga ya sobat, nanya juga kan ya??? Iya dong... Sobatkan pada kece-gaul abisss.... Truz, menuntut ilmu itu apa ya???? #Pikirin dulu ya... Gimana udah???
             Okey.... Menuntut ilmu itu adalah.... Eits, tunggu dulu, sebelum menjelaskan arti menuntut ilmu kita perlu tau landasan menuntut ilmu, bahasa kerennya hukum menuntut ilmu... Wahhh... membahas tentang menuntut ilmu, ada hukum dan sanksinya juga loh...
             Mari kita simak penuturan Rasulullah saw melalui Anas bin Malik ra, “Mencari ilmu itu fardhu atas setiap orang muslim” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Ternyata sobat, nuntut ilmu itu hukumnya WAJIB! Tapi tunggu dulu.... Ilmu apa dulu??? Matematika? Kimia? Fisika? Ekonomi? Pertanian? Kedokteran? Bahasa? Ilmu agama islam??? Apakah sobat merasa Wajib??? FARDHU??? Mana nih yang Wajib sewajib-wajibnya (Fardhu ain)??? Atau G wajib-wajib banget (Fardhu kifayah)???
             Kebayang g sobat, klo kita semua diwajibin belajar matematika dengan kalkulusnya??? Atau Kimia dengan susunan, proses dan embel-embelnya??? Kedokteran dengan obat dan operasinya??? Atau kesemuanya itu diwajibkan??? Woahhh.... @_@. Pusing g tuh.... Gimana dong dengan teman yang memiliki keterbatasan atau alergi??? Kasian kan...
             Untungnya ilmu-ilmu tersebut dan sejenisnya g diwajibkan... artinya, menuntut ilmu tersebut hukumnya Fardhu kifayah. Jika seseorang telah ada yang mempelajarinya maka yang lain tidak wajib lagi mempelajarinya... Alhamdulillah ya... Jadi ilmu tersebut merupakan pilihan, kita mau mempelajari... sok atuh... Terserah kemampuan dan keinginan para sobat... Sobat kan punya cita-cita masing-masing kan....
             Kata ibnu Qudamah, ilmu-ilmu tersebut perlu untuk dipelajari demi menjaga kelangsungan hidup di dunia. Seperti ilmu kedokteran, urgen untuk dipelajari karena diperlukan untuk mengetahui cara menjaga kesehatan tubuh. Tuh... menjaga kesehatan juga bentuk rasa syukur kita kepada Allah swt, sobat...
             Nah... gimana nih, klo sobat yang udah SMA, Diploma, S1??? Masih mau lanjut ke tingkat selanjutnya??? Wah... g apa-apa... Itu merupakan sebuah keutamaan tersendiri buat sobat. Asal ingat, ayat yang pertama diwahyukan Allah swt... “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al ‘Alaq:1). Agar usaha kita menuntut ilmu tidak sia-sia.
             Sabat, tadi kan hanya ilmu yang g wajib-wajib banget. Nah... Ilmu mana nih yang diwajibkan untuk dipelajari oleh semua umat muslim dan tidak mengenal waktu, umur, dan tidak bisa diwakilkan kan??? ApA ya??? Apa sobat merasa ada ilmu yang wajib dipelajari selama ini??? Wajib dipelajari sejak kecil dan akhir usia kita??? Coba pikir.... Kuras otaknya... diingat-ingat...
             Hmmm... Yups... betul, ilmu agama islam... Bahasa kerennya ilmu ddiin... Apakah sehari-hari kita telah mempelajari yang wajib ini??? Jawab sendiri-sendiri ya... Dalam kehidupan sehari-hari kita hanya mendapatkan ilmu tersebut wajib dipelajari karena statusnya sebagai mata pelajaran di SD, SMP, dan SMA. Padahal tidak hanya sebatas sampai dengan di SMA. Tapi hingga roh kita sampai dengan di tenggorokan. Medianya??? Wah... banyak sekali, tidak dipungut biaya pula... Contohnya??? Majelis ta’lim yang sudah banyak diadakan dimana-mana dan setiap hari. Radio, buletin, majalah islam, dan banyak lagi...
             Ada yang bertanya, mengapa ilmu ini diwajib kan dan tidak boleh diwakilkan??? Hal ini karena berhubungan dengan diri pribadi kita masing-masing dengan Sang Pencipta, Allah swt yang menentukan predikat kepada masing-masing hambanya dengan balasan tak terduga. Predikatnya adalah apakah kita penghuni syurga atau penghuni neraka. Pilih mana??? Penghuni syurga??? Usahanya mana??? G hanya milih2 dong.... harus ada usaha...
             Eh... sobat, jangan membuat jurang pemisah antara ilmu ddiin dengan ilmu-ilmu lainnya (matematika, bahasa, dll) ya... Karena mereka saling terkait, tak bisa dipisahkan... Karena ilmu ddiin, membahas mencakup semua tentang diri kita, tauhid, apa yang boleh dan apa yang tak boleh, tingkah laku, hati, dan banyak hal yang sangat mendukung ilmu-ilmu lainnya. Jadi orang yang kuliahnya di bidang Biologi atau ilmu dunia lainnya dan tetap mencari ilmu ddiin di setiap waktu, memiliki keutamaan tersendiri.
             Rasulullah saw, pernah berkata: “Sesungguhnya orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka setiap hewan melata akan memohonkan ampun baginya, termasuk pula paus di lautan”. Jika ada yang bertanya, Bagaimana mungkin ikan paus memohonkan ampun bagi orang yang mengajarkan ilmu ddin??? Maka ibnu Qudamah menjawab, karena manfaat ilmu ddin itu meliputi segala sesuatu, termasuk ikan paus. Orang-orang yang menuntut ilmu akan mengetahui apa yang boleh dilakukan dan apa yang dilarang. Orang berilmu ini tentu akan memberikan nasehat agar berbuat santun kepada segala sesuatu, termasuk kepada hewan yang disembelih dan ikan paus. Dan Allah swt telah mengilhamkan kepada setiap makhluk berupa permohonan ampunan bagi orang-orang berilmu itu sebagai balasan dari perbuatan mereka yang baik.
             Sobat sudah tau hukumnya, truz apa ya balasannya bagi orang yang tidak menuntut ilmu ddin??? Jawabnya adalah berdosa. Contohnya, belajar tentang sholat, kalo sobat tidak belajar rukun solat, bacaan di dalam sholat dan tata cara yang telah dicontohkan Rasulullah saw, bagaimana sobat sebagai seorang muslim???  Belajar mengaji,  kalo sobat tidak belajar cara melafadzkan huruf-hurufnya, tidak belajar menempatkan tempat keluarnya huruf, tidak belajar hukum-hukum bacaan, karena cuek saja, merasa bacaan baik-baik saja dan melagunya bagus-bagus saja saat di dengar sendiri -padahal bisa salah baca dan salah makna-, maka bagaimana sobat sebagai seorang muslim???  
             So, sebagai seorang muslim yang sudah membaca dan mengetahui, mari ubah sedikit jadwal kita, kalau senin sampai sabtu penuh dengan kegiatan sekolah atau pun kuliah, maka disela-selanya sempatkanlah membeli, membaca buku islami dan jangan malu untuk bertanya kepada sobat lain... Atau di hari minggu yang kosong, sekali-kali diiisi dengan menghadiri majelis ilmu atau bahasa kerennya “taman-taman syurga”.
             Jadi bisa disimpulkan bahwa menuntut ilmu adalah mempelajari, memahami, mengamalkan dan mendakwahkan apa yang telah dipelajari, baik ilmu dunia maupun ilmu ddiin, hukum mempelajari ilmu dunia adalah fardhu kifayah, sedangkan ilmu ddiin adalah fardhu ain.

Kamis, 26 September 2013

3 Bulan Tak Bersua

Cukup Lama
3 Bulan = 90 hari
Juni dan baru sekarang September
Tak pernah bercerita lagi
Dan kini kembali
Ingin menuangkan isi kepala dan pengamalan menarik
Bulan-bulan yang dipenuhi dengan kesibukan
Bulan-bulan yang sibuknya bukan main
Tapi
Sibuknya hanya membuahkan hasil yang tidak sesuai dengan target
Ramadhan terlewatkan begitu saja karenanya
Tak bertambah tapi justru berkurang
Banyak pelajaran tapi tak terserapi dengan baik
Ada sesuatu yang menghalangi
Yang saya sendiri berusaha untuk melepaskan
Tapi tak dapat kulepaskan
Karena bermain didalamnya
membuatku kesenengan dan lupa diri
Saat ingat, insyaf...
Dan saat sangat bahagia, lupa...
Kondisi itu berputar teerus menerus selama 3 bulan
Perlu ada perbaikan yang lebih baik lagi
Layaknya pisau, tak dipakai, berkarat, maka perlu diasah kembali.
Harus kembali menjadi lebih baik dari pada kemarin-kemarin
Bukan justru ingin kembali ke awal
Tetapi mengubah, memperbarui dan memperbaiki
Hati, Sikap, Niat, Pikiran, dan Kebiasaan...
Yang kesemuanya perlu dilatih
Seperti binaragawan yang ingin berotot
Maka tiap hari harus latihan
Tidak hanya latihan fisik,
Tapi Makanannya juga harus seimbang
Begitu pun dengan Hati, Sikap, Pikiran dan Kebiasaan..
Harus melatih hati, sikap, pikiran dan kebiasaan setiap hari...
setiap waktu...
dan dibarengi dengan makanaan hati...
Evaluasi juga...

Senin, 27 Mei 2013

Kehilangan...

26513 @ Lewikopo
Kehilangan benda apa pun yang  berguna cukup membuat diri kita kesal. Kehilangan itu terjadi karena kecerobohan yang kita lakukan sendiri. Tetapi jika barang itu hilang di pagi hari (subuh) dan di tempat yang saat itu hanya ada teman-teman kita saja. Maka apa yang terpikirkan olehmu?
Opini pertama yang terlontar : Lupa menaruh barang tersebut.
Maka perlu diadakan jejak lintas kembali perjalanan atau kegiatan sebelum hilangnya barang. Mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Menyusuri tempat-tempat yang dilewati.
Opini kedua yang muncul:  ini hanya permainan teman-teman. Menyembunyikan barang. Membuat orang gusar. Membuat orang sedih. Membuat orang linglung mencari kemana-mana dan bertanya-tanya. Setelah berhasil mendapatkan ekspresi yang diiginkannya, barulah si teman tadi dengan bahagiahnya menunjukkan barang tersebut. Tetapi sebelumnya mengerjai teman tersebut dengan berbagai saran untuk mencari dan terus mencari, hingga rasa putus asa muncul. Bahkan rasa menuduh terhadap orang terdekat yang mengerjai kita akan muncul.
Opini terakhir adalah sebuah tuduhan yang tidak jelas kepada seseorang. Sehingga kita mencari-cari sosok orang yang bisa melakukan hal itu. Inilah opini negatif yang membuat hubungan kita terhadap seseorang rusak. Sebaiknya hindari opini ini.
Manusia memiliki imajinasi yang bisa membuat orang tersebut termakan dengan imajinasinya sendiri. Lebih baik jika hanya diimajinasikan daripada menjadikannya nyata. Yakni dengan bersuara menuduh seseorang yang belum tentu melakukan hal ini. Karena dengan bersuara, akan menyakitkan orang yang dituduh itu.  Sakitnya lebih sakit daripada luka fisik. Lukanya tidak nyata seperti luka teriris pisau. So, hindarilah.
Lebih bijak jika kita berpikir postif saja. Memikirkan bahwa barang-barang ini bukan milik kita. Barang ini  titipan untuk kita. Kapan pun yang Empunya mau mengambilnya, maka diambilnya. Titipan ini diserahkan kepada kita agar kita bisa memanfaatkannya sebaik mungkin. Pemanfaatan yang baik merupakan cerminan dari kita bahwa untungnya kita masih dititipkan sesuatu. Dengan kata lain, kita mensyukuri apa yang telah dititpkan. Jika sudah tak ada lagi titipan maka kita pun akan diambil-Nya.