Selasa, 17 November 2015

Jeritan sang anak yang tenggelam terdengar oleh ayah sang imam mesjid


Umur siapa yang tahu, demikian juga seorang pemuda, bagaimanapun kuatnya juga tak bisa mengelak dari hal tersebut. Kisah nyata ini diceritakan sendiri oleh pelakunya dan pernah disiarkan oleh Radio Al Qur’an di Makkah al Mukarramah. Kisah ini terjadi pada musim haji dua tahun yang lalu di daerah Syu’aibah, yaitu daerah pesisir pantai laut merah, terletak 110 Km di Selatan Jeddah.

Pemilik kisah ini berkata: Ayahku adalah seorang imam masjid, namun demikian aku tidak shalat. Beliau selalu memerintahkan aku untuk shalat setiap kali datang waktu shalat. Beliau membangunkan ku untuk shalat subuh. Akan tetapi aku berpura-pura seakan-akan pergi ke masjid padahal tidak. Bahkan aku hanya mencukupkan diri dengan berputar-putar naik mobil hingga jama’ah selesai menunaikan shalat. Keadaan yang demikian terus berlangsung hingga aku berumur 21 tahun. Pada seluruh waktuku yang telah lewat tersebut aku jauh dari Allah dan banyak bermaksiat kepada-Nya. Tetapi meskipun aku meninggalkan shalat, aku tetap berbakti kepada kedua orang tuaku. Inilah sekelumit dari kisah hidupku di masa lalu.

Pada suatu hari, kami sekelompok pemuda bersepakat untuk pergi rekreasi ke laut. Kami berjumlah lima orang pemuda. Kami sampai di pagi hari, lalu membuat tenda di tepi pantai. Seperti biasanya kamipun menyembelih kambing dan makan siang. setelah makan siang, kamipun mempersiapkan diri turun ke laut untuk menyelam dengan tabung oksigen. sesuai aturan, wajib ada satu orang yang tetap tinggal di luar, di sisi kemah, hingga dia bisa bertindak pada saat para penyelam itu terlambat datang pada waktu yang telah ditentukan. Akupun duduk, dikarenakan aku lemah dalam penyelaman. Aku duduk seorang diri di dalam kemah, sementara disamping kami juga terdapat sekelompok pemuda yang lain. Saat datang waktu shalat, salah seorang diantara mereka mengumandangkan adzan, kemudian mereka mulai menyiapkan shalat. Aku terpaksa masuk ke dalam laut untuk berenang agar terhindar dari kesulitan yang akan menimpaku jika aku tidak shalat bersama mereka. Karena kebiasaan kaum muslimin di sini adalah sangat menaruh perhatian terhadap shalat berjamaah dengan perhatian yang sangat besar, hingga menjadi aib bagi kami jika seseorang shalat fardhu sendirian. Aku sangat mahir dalam berenang. Aku berenang hingga merasa kelelahan sementara aku berada di daerah yang dalam. AKu memutuskan untuk tidur diatas punggungku dan membiarkan tubuhku hingga bisa mengapung di atas air. Dan itulah yang terjadi. Secara tiba-tiba, seakan-akan ada orang yang menarikku ke bawah… aku berusaha untuk naik…..aku berusaha untuk melawan….aku berusaha dengan seluruh cara yang aku ketahui, akan tetapi aku merasa orang yang tadi menarikku dari bawah menuju ke kedalaman laut seakan-akan sekarang berada di atasku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah. Aku berada dalam keadaan yang ditakuti oleh semua orang.

Aku seorang diri, pada saat itu aku merasa lebih lemah daripada lalat. Nafaspun mulai tersendat, darah mulai tersumbat di kepala, aku mulai merasakan kematian! Tiba-tiba, aku tidak tahu mengapa…aku ingat kepada ayahku, saudara- saudaraku, kerabat-kerabat dan teman- temanku… hingga karyawan di toko pun aku mengingatnya. Setiap orang yang pernah lewat dalam kehidupanku terlintas dalam ingatanku… semuanya pada detik-detik yang terbatas… kemudian setelah itu, aku ingat diriku sendiri..!.!! Mulailah aku bertanya kepada diriku sendiri… apa engkau shalat? Tidak. Apa engkau puasa? Tidak. Apa engkau telah berhaji? Tidak. Apa engkau bershadaqah? Tidak. Engkau sekarang di jalan menuju Rabbmu, engkau akan terbebas dan berpisah dari kehidupan dunia, berpisah dari teman-temanmu, maka bagaimana kamu akan menghadap Rabb-mu? Tiba-tiba aku mendengar suara ayahku memanggilku dengan namaku dan berkata: “Bangun dan shalatlah.” Suara itupun terdengar di telingaku tiga kali. Kemudian terdengarlah suara beliau adzan. Aku merasa dia dekat dan akan menyelamatkanku. Hal ini menjadikanku berteriak menyerunya dengan memanggil namanya, sementara air masuk ke dalam mulutku. Aku berteriak….berteriak…tapi tidak ada yang menjawab.

Aku merasakan asinnya air di dalam tubuhku, mulailah nafas terputus-putus. Aku yakin akan mati, aku berusaha untuk mengucapkan syahadat….kuucapkan Asyhadu…Asyhadu…aku tidak mampu untuk menyempurnakannya, seakan-akan ada tangan yang memegang tenggorokanku dan menghalangiku dari mengucapkannya. Aku merasa bahwa nyawaku sudah dalam perjalanan keluar dari tubuhku. Akupun berhenti bergerak…inilah akhir dari ingatanku. Aku terbangun sementara kau berada di dalam kemah…dan di sisiku ada seorang tentara dari Khafar al Sawakhil (penjaga garis batas laut), dan bersamanya para pemuda yang tadi mempersiapkan diri untuk shalat. Saat aku terbangun, tentara itu berkata:”Segala puji bagi Allah atas keselamatan ini.” Kemudian dia langsung beranjak pergi dari tempat kami. Aku pun bertanya kepada para pemuda tentang tentara tersebut. Apakah kalian mengenalnya? Mereka tidak mengetahuinya, dia datang secara tiba-tiba ke tepi pantai dan mengeluarkanmu dari laut, kemudian segera pergi sebagaimana engkau lihat, kata mereka. Akupun bertanya kepada mereka: “Bagaimana kalian melihatku di air?” Mereka
menjawab,”Sementara kami di tepi pantai, kami tidak melihatmu di laut, dan kami tidak merasakan kehadiranmu, kami tidak merasakannya hingga saat tentara tersebut hadir dan mengeluarkanmu dari laut.”

Perlu diketahui bahwa jarak terdekat denga Markas Penjaga Garis Laut adalah sekitar 20 Km dari kemah kami, sementara jalannya pun jalan darat, yaitu membutuhkan sekitar 20 menit hingga sampai di tempat kami sementara peristiwa tenggelam tadi berlangsung dalam beberapa menit. Para pemuda itu bersumpah bahwa mereka tidak melihatku. Maka bagaimana tentara tersebut melihatku? Demi Rabb yang telah menciptakanku, hingga hari ini aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai kepadaku. seluruh peristiwa ini terjadi saat teman-temanku berada dalam penyelaman di laut. Ketika aku bersama para pemuda yang menengokku di dalam kemah, HP-ku berdering. segera HP kuangkat, ternyata ayah yang menelepon. Akupun merasa bingung, karena sesaat sebelumnya aku mendengar suaranya ketika aku di kedalaman, dan sekarang dia menelepon? Aku menjawab….beliau menanyai keadaanku, apakah aku dalam keadaan baik? Beliau mengulang-ulangnya, berkali-kali. Tentu saja aku tidak mengabarkan kepada beliau, supaya tidak cemas. Setelah pembicaraan selesai aku merasa sangat ingin shalat. Maka aku berdiri dan shalat dua rakaat, yang selama hidupku belum pernah aku lakukan. Dua rakaat itu aku habiskan selama dua jam. Dua rakaat yang kulakukan dari hati yang jujur dan banyak menangis di dalamnya. Aku menunggu kawan- kawanku hingga mereka kembali dari petualangan. Aku meminta izin pulang duluan.

Akupun sampai di rumah dan ayahku ada di sana. Pertama kali aku membuka pintu, beliau sudah ada di hadapanku dan berkata: “Kemari, aku merindukanmu!” Akupun mengikutinya, kemudian beliau bersumpah kepadaku dengan nama Allah agar aku mengatakan kepada beliau tentang apa yang telah terjadi padaku di waktu Ashar tadi. Akupun terkejut, bingung, gemetar dan tidak mampu berkata-kata. Aku merasa beliau sudah tahu. Beliau mengulangi pertanyaannya dua kali. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku. Kemudian beliau berkata:”Demi Allah, sesungguhnya aku tadi mendengarmu memanggilku, sementara aku dalam keadaan sujud kedua pada akhir shalat Ashar, seakan- akan engkau berada dalam sebuah musibah. Engkau memanggil-manggilku dengan teriakan yang menyayat-nyayat hatiku. Aku mendengar suaramu dan aku tidak bisa menguasai diriku hingga aku berdo’a untukmu dengan sekeras- kerasnya sementara manuisa mendengar do’aku. Tiba-tiba, aku merasa seakan-akan ada seseorang yang menuangkan air dingin di atasku. Setelah shalat, aku segera keluar dari masjid dan menghubungimu. Segala puji bagi Allah, aku merasa tenang bagitu mendengar suaramu. Akan tetapi wahai anakku, engkau teledor terhadap shalat. Engkau menyangka bahwa dunia akan kekal bagimu, dan engkau tidak mengetahui bahwa Rabbmu berkuasa merubah keadaanmu dalam beberapa detik. Ini adalah sebagian dari kekuasaan Allah yang Dia perbuat terhadapmu. Akan tetapi Rabb kita telah menetapkan umur baru bagimu. Saat itulah aku tahu bahwa yang menyelamatkan aku dari peristiwa tersebut adalah karena Rahmat Allah Ta’ala kemudian karena do’a ayah untukku. Ini adalah sentuhan lembut dari sentuhan-sentuhan kematian. Allah Ta’ala ingin memperlihatkan kepada kita bahwa betapapun kuat dan perkasanya manusia akan menjadi makhluk yang paling lemah di hadapan
keperkasaan dan keagungan Allah Ta’ala.

Maka semenjak hari itu, shalat tidak pernah luput dari pikiranku. Alhamdulillah. Wahai para pemuda, wajib atas kalian taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua. Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami, terimalah taubat kami dan taubat mereka dan rahmatilah mereka dengan rahmat-Mu.Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua, jangan sekali-kali mengabaikan kewajiban ibadah kita walaupun kelihatannya sepele.
# Inspirasi # Motivasi
http://homestyler.us/

(Syamsu Rizal)

Masuk islam; dokter kandungan kagum dengan aturan islam

Dokter Orivia mengisahkan sebuah kejadian yang begitu berkesan bagi dirinya, sehingga kejadian itu membuatnya masuk ke dalam agama Islam. Ia mengisahkan…

Aku adalah dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit di Amerika. Suatu hari, datang seorang perempuan Arab muslimah ke rumah sakit tempatku bekerja, wanita itu hendak melahirkan. Setelah beberapa saat menunggunya, waktu jagaku habis, lalu aku berpamitan kepadanya untuk pulang ke rumah dan kusampaikan bahwa ada seorang dokter laki-laki yang akan menggantikanku bertanggung jawab atas persalinannya.

Tiba-tiba perempuan itu bersedih, kemudian menangis dan mulai sedikit histeris. Ia mengatakan, “Tidak!, aku tidak ingin dokter laki-laki.”

Aku pun heran dengan perempuan ini, lalu suaminya memberitahukan kepadaku bahwa dia tidak mau ada seorang laki-laki asing yang melihatnya. Seumur hidupnya tidak ada seorang laki-laki pun yang pernah melihat wajahnya kecuali ayahnya, saudara-saudara laki-lakinya, paman-pamannya (mahramnya).

Ucapan suaminya itu membuatku tertawa keheranan, malah aku mengira tidak ada seorang laki-laki di Amerika (yang mengenalku pen.) yang belum pernah melihat wajahku. Namun aku menuruti permintaan mereka untuk menemani persalinan istrinya.

Di hari berikutnya, aku menemui mereka kembali untuk memeriksa keadaan sang istri pasca melahirkan. Lalu kuberitahukan kepada mereka bahwa setelah melahirkan kebanyakan wanita di Amerika mengalami infeksi internal dan demam. Hal itu dikarenakan mereka melakukan hubungan suami istri setelah melahirkan. Oleh karena itu, aku nasihatkan kepada mereka hendaknya tidak melakukan hubungan suami istri minimal di 40 hari pertama. Dan selama 40 hari ini hendaknya memakan makanan yang bergizi dan tidak sibuk beraktivitas karena kondisi tubuh yang masih lelah pasca melahirkan.

Muslimah ini menanggapi saran-saranku dengan mengatakan, Islam memang menetapkan aturan demikian, yakni tidak boleh berhubungan suami istri selam 40 hari setelah melahirkan (nifas) hingga wanita tersebut suci kembali. Dan mereka pun diberikan keringanan untuk tidak shalat dan puasa.

Luar biasa! Ucapannya ini benar-benar membuatku kagum bercampur heran. Islam telah mengajarkan demikian, dan kami (orang-orang non-Islam) baru mengetahuinya setelah melakukan berkali-kali penelitian panjang. Kekagumanku tidak berhenti sampai di situ, ketika kukatakan agar bayi hendaknya tidur dengan sisi kanannya, karena yang demikian itu lebih baik untuk detak jantungnya. Lalu mereka mengatakan, demikianlah memang yang disunnahkan Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Aku mengambil spesialis kandungan untuk mempelajari lebih detil lagi tentang masalah melahirkan dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Kita (para dokter) menghabiskan umur kita untuk mempelajari ilmu kedokteran ini, ternyata umat Islam telah mengetahuinya dari agama mereka.

Sejak saat itu aku mulai menekuni mempelajari agama Islam. Aku ambil cuti beberapa bulan lalu pergi ke kota lain di Amerika dimana terdapat Islamic Center yang besar. Aku habiskan hari-hariku di tempat itu untuk bertanya-jawab dan mengkaji tentang Islam serta bergaul dengan orang-orang Islam baik dari kalangan Arab atau Amerika sendiri. Alhamdulillah.. setelah beberapa bulan mengkaji aku menyatakan keislamanku dengan dua kalimat syahadat.

Sumber: islamstory.com

Bakti Seorang Anak Kepada Ibunya yang Memiliki Keterbelakangan Mental

Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy

Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya…
Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya…
Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut…

Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usiake ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit.

Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…

Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.

Pemuda itu menjawab :“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”

Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”Ia menjawab : “Aku”

Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”

Ia menjawab : “Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkanpakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”

Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”

Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”

Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..

Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”

Ia menjawab : “Alhamdulillah,aku sudah beristri dan punya beberapa anak”

Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”

Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya,dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya”

Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”

Ia menjawab : “Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya”

Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…

Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”

Ia menjawab : “Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”

Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”

Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”

Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…sekarang!”

Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihatanak-anakku gembira…”

Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…

dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.Lalu aku bertanya lagi : “Apakah Anda punya saudara?”

Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”

Aku bertanya : “Jadi Anda dirawat ayah?”

Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”

Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?”

Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihandia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”

Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…

Ia memegang tangan ibunya dan berkata

“Mari kita ke kedai..”

Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!”

Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…

Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?”

Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”

Aku pun bertanya pada putranya : “
Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”

Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”

Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?”

Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya”.

Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.

Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…

Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…

Aku berkata dalam diriku :
“Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…

Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!
Walaupun demikian…
pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu”.

Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat….seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental???.

[اقتطعه واتساب]

Dari FB Abu Wafa Andri

Minggu, 01 Maret 2015

Belajar dari Orang Unik

Bismillah...
Di kampus masing-masing mungkin terdapat orang-orang unik yang terkenal, dari tahun ke tahun menjadi buah bibir mahasiswa. Setiap angkatan membicarakannya. Di IPB pun seperti itu.
Salah satu orang unik yang saya temui di kampus adalah orang yang berbeda dari kebanyakan manusia. Ia seorang wanita. Biasa dipanggil Endah [nama aslinya tidak saya ketahui]. Dia orang unik [orang yang kurang waras]. Banyak orang yang takut berpapasan dengannya. Baru melihatnya saja, orang-orang pasti menghindarinya, mencari jalan lain agar tak bertemu, berjalan dengan cepat atau lari. Saya pun seperti itu. hehehe...
Tapi suatu waktu saya tak bisa menghindar. Di mesjid Al-hurriyah, Sepertinya dia baru saja selesai sholat. "Assalamu 'alaikum, Ummu", dia menyapa, menjabati tanganku, dan menanyakan kabar. [sepertinya itu kebiasaan dia saat bertemu dengan akhwat]. Deg... deg... deg... Saya waswas. Takut. Buru-buru saya minta izin untuk sholat.
Di waktu yang lain, malam hari, saya berpapasan. "Oiii.... JABLAI.... Kok malam-malam berkeliaran" kira-kira perkataannya senada itu. Sebaiknya seorang muslimah tidak berkeliaran sendirian di malam hari. Itu maksudnya. Maksud yang baik. Pada hari yang berbeda saya sempat melihatnya menegur 2 manusia yang berjalan berduaan [cewe & cowo]. Memang sebaiknya cewe-cowo tidak berduaan [berkhalwat].
Suatu hari saya berpapasan dengannya. Ingin segera menghindar tapi saya baru menyadari kehadirannya saat sudah dekat. Takut??? iya... Sebelum ia ngomel ke saya [gara-gara jibab hitam yang kukenakan saat itu-Dia tidak suka dengan orang yang berjilbab hitam. Kurang tau apa penyebabnya], secepat mungkin saya mengucapkan salam. Walhasil... Saya tidak diomeli dengan kata "JABLAI", tetapi ia justru mendekat dan menjabati tanganku.
"Mau kemana?", tanyanya.
"Mau pulang", jawabku.
"Neng punya jilbab g? punya gamis g?" Tanyanya. "Minta dong..." lanjutnya.
"Ia, saya punya. Mau diambil kapan?" Tanyaku.
"Sekarang saja" katanya.
Diperjalanan, kami ngobrol ala kadarnya. Saya sempat berpikir ia seperti orang normal. Tetapi saya tetap saja takut....
"Neng dari mana?" tanyanya.
"Dari kampus" jawabku.
"Kok ke kampus, kan sekarang lagi libur" katanya -waktu itu hari ahad-
Sampai di kosan, segera saja saya mengambil gamis dan jibab. Lalu kuserahkan. Sebenarnya saya pengen dia cepat pergi. Rasa takut masih menyelimutiku.... Tapi ia tetap saja duduk dan malah balik bertanya.
"Neng, mau kemana lagi?"
"Mau pulang, maksudku mau masuk ke kamar" jawabku gagap. Khawatir ia g mau pergi.
"Masuk saja sekarang". Jawabnya. Kemudian kujabati tangannya, kemudian kuucapkan salam, lalu saya masuk ke kosan. Ia tetap dalam posisi duduk sambil menikmati jambu.
Masih khawatir... saya menunggu dibalik pintu. Takut ia tetap nongkrong di teras rumah. Sepersekian detik, saya mengintip di jendela, ternyata ia sudah pergi. Nyesss... leganya.....
Pertanyaan yang ia tanyakan, dan jawaban yang ia berikan itu, seperti ingin memberitahu, muslimah yang mau keluar kemana pun itu, ia sebaiknya memiliki tujuan yang penting.
Di tempat berbeda, di waktu yang lampau ada orang seperti dia [orang kurang waras] yang nongkrong di depan rumah sanak keluargaku. Ia memakai pakaian ala kadarnya [auratnya terlihat]. Masyarakat sekitar sana risih. Ia diberi sarung, diberi pakaian. Tetapi tetap saja ia tidak ingin memakainya. Ia tetap nyaman dengan pakaian ala kadarnya. Endah salah satu dari manusia yang seperti mereka [orang yang kurang waras], tetapi ia berpakaian muslimah yang baik. Berpakaian longgar, dan jilbab teruntai menutupi dada. Walaupun kurang rapi, tetapi auratnya tertutup. Jarang didapati orang yang seperti dia.
Tidakkah kita malu? Endah dalam keadaan seperti itu, menjaga auratnya.
Mengapa kita [yang alhamdulillah memiliki akal] tidak menjaga aurat kita?
Apakah kita sama saja dengan temannya endah [orang kurang waras yang nyaman dengan pakaian ala kadarnya]?
----Pelajaran itu bisa dipetik darimana saja----

Senin, 23 Februari 2015

2013 - 2014

Tulisan ini ditulis bulan februari dan baru diposting sekarang-september

Bismillah...
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
Apakabar Sobat....
Semoga kalian dalam keadaan sehat wal afiat.
Sudah lama tak menulis di blog ini lagi.... Postingan terakhir bulan November 2013. Dan sekarang sudah bulan Februari 2015. Woaaaahhh.... 1 tahun lamanya tidak pernah menulis lagi. Hehehe....

Selama setahun belakangan -2013-2014- banyak hal yang telah saya lalui. Mulai dari KKP di Pekalongan , Perencanaan penelitian jagung yang tidak jadi dilaksanakan, dan berpindah ke penelitian kedelai, penulisan skripsi hingga sekarang sedang menunggu saat-saat istimewa -Kata dosenku [Ibu Ning] proses untuk mengetahui sedalam apa pengetahuamu tentang penelitian ini-... Kalo bahasanyao anak IPB "Sidang". Klo di Makassar dikenalnya "Ujian meja". Di universitasmu sendiri istilahnya apa???

KKP di PEKALONGAN
Kuliah Kerja Profesi [KKP] saya dapat jatah di Desa Depok Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan. Sebenarnya tidak hanya di desa itu. Untuk di Kecamatan Lebak barang ada 5 desa yang menjadi posko KKP IPB, yaitu Depok, Lebakbarang, Sidomulyo, Tembelan Gunung dan Pamutuh. Masing-masing kelompok di  desa tersebut terdiri atas 5 mahasiswa yang memiliki latar jurusan berbeda, yaitu Agronomi dan Hortikultura (AGH), Proteksi Tanaman (PTN), Gizi  Masyarakat (GM), Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), serta Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM). Klo dikelompokku sendiri ada saya (AGH), Mimi (GM), Idah (KPM), Novi (IKK), dan Lutfi (PTN).
Hal yang penting untuk diperhatikan penting bagi saya adalah rumah yang akan ditempati. Terlebih jika teman sekelompok ada cowo. Untungnya teman-teman cewe juga agak risih jika serumah dengan cowo. kita berusaha untuk mendiskusikan dengan kepala desa agar cewe-cowo tinggal terpisah. Walhasil yang cewe ngontrak dirumah salahsatu warga -kebetulan rumahnya bertingkat, dan lantai dasar tidak ditempati oleh beliau sekeluarga- dan yang cowo numpang dirumah kepala desa yang keesokan harinya sudah tidak menjabat kepala desa lagi. Dan alhamdulillah anak-anak dari pak bejo -yang punya rumah- masih kecil-kecil. jadi ada teman main... hehehe... Kedua yang penting untuk diperhatikan adalah masalah makanan. Kami bersepakat untuk minta dimasakkan makanan oleh tuan rumah maksudnya bayar buat makan. Cewe2nya bukan g tau masak, tapi kita fokus pada kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Terlebih lagi saat itu bulan puasa jadi ada kekhawatiran akan kecapean.
Kegiatan yang pertama kali dilakukan adalah silaturahmi dengan masyarakat kemudian kegiatan semiformal dilakukan yakni pengenalan mahasiswa KKP kepada masyarakat di masing-masing lokasi. Kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan masyarakat sehingga dapat diketahui permasalahan apa yang sedang berkembang. Berdasarkan hasil diskusi masing-masing mahasiswa merencanakan kegiatan yang dapat mengatasi masalah tersebut. Disini saya tidak akan memaparkan secara mendalam mengenai masalah yang terjadi, tetapi saya akan memaparkan apa yang saya dapatkan. Kebanyakan masyarakat menanyakan mengenai pertanian, terutama bagian hama.
Mengenai penyuluhan pertanian.... Sangat sulit untuk  memasukkan teknologi baru kepada masyarakat disini. Karena pengalaman buruk mereka di masa lampau. Pernah suatu kali pemerintah membagikan benih padi untuk ditanam di desa tersebut dengan dalih hasil yang tinggi. Betul saja hasil padi tersebut tinggi di desa lain -desa tetangga-tapi tidak untuk di desa ini. Mengapa??? Karena kondisi alam desa ini berbeda dengan desa tetangga. Desa ini terletak diketinggian 500m dpl.

Sehingga kami hanya memperkenalkan dan berbagi ilmu mengenai beberapa teknologi baru seperti SRI, dan vertikultur.
KKP disini seperti liburan. Mengapa??? Karena kondisi alam yang sangat indah, udara yang sejuk ditambah suara gemuruh air sungai bak musik alam yang menenangkan.